Indra Kenz Terbang ke Turki, Mangkir Panggilan Polisi

Indra Kenz Terbang ke Turki, Mangkir Panggilan Polisi

Influencer Indra Kenz bakal mangkir dari pemeriksaan terkait kasus dugaan penipuan Binomo di Bareskrim Polri, Jumat (18/2), dengan alasan berobat ke Turki.

Pemengaruh Indra Kenz ajukan tunda pemeriksaan kasus Binomo. (Foto: Rakha Arliyanto/detikcom)

Influencer alias pemengaruh Indra Kenz disebut tak dapat menghadiri pemeriksaan kasus dugaan penipuan berkedok trading binary option atau perdagangan opsi biner Binomo di Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Jumat (18/2).

Pengacara Indra, Wardaniman Larosa, mengatakan bahwa kliennya sedang berobat ke Turki.

"Sehingga kami telah mengajukan permohonan penundaan pemeriksaan dan penjadwalan ulang ke Bareskrim Polri," kata Wardaniman saat dikonfirmasi, Rabu (16/2).

Lihat Juga :

Ia mengklaim kliennya pergi ke Turki lantaran jadwal berobat tersebut sudah ada jauh sebelum panggilan polisi diterima.

"Dia ada riwayat sakit yang sudah lama, dan telah terjadwal untuk kontrol. Jauh sebelum ada masalah ini," ucapnya, tanpa menyebut nama penyakit itu.

Diketahui, Indra Kenz merupakan salah satu terlapor dalam laporan yang dilayangkan oleh para korban dari aplikasi Binomo ke Bareskrim.

Para korban pun telah diperiksa penyidik pada Kamis (10/2). Mereka mengakui bahwa terpikat investasi melalui aplikasi Binomo lantaran dijanjikan keuntungan hingga 85 persen.

Lihat Juga :

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Whisnu Hermawan mengatakan para korban juga diduga terpengaruh oleh konten-konten promosi yang dibuat oleh Indra Kenz melalui YouTube, Instagram, dan Telegram yang mengatakan bahwa Binomo merupakan aplikasi legal dan resmi di Indonesia.

Padahal, Binomo merupakan satu dari ribuan aplikasi binary option lain yang diblokir oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag) karena tak memiliki izin.

Terlapor, kata Whisnu, juga memamerkan hasil profit atau keuntungannya di media sosial. Sehingga, para korban bergabung hingga pada akhirnya tak mendapat untung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *