Pergerakan Nilai Tukar Mata Uang Terhadap Dolar AS Menurun di Tengah Pandemi Covid-19

Pergerakan Nilai Tukar Mata Uang Terhadap Dolar AS Menurun di Tengah Pandemi Covid-19

Ilustrasi. Utang Luar Negeri Indonesia Capai 413 Miliar Dolar AS, Belanja Prioritas Sektor Kesehatan dan Sosial Paling Besar

PIKIRAN RAKYAT – Lebih dari dua tahun, nilai tukar mata uang euro, dolar Aussie, dan dolar Selandia Baru mencapai nilai tertinggi terhadap greenback yang tengah tertekan di akhir perdagangan pada Rabu, 30 Desember 2020 (Kamis pagi WIB).

Investor memperkirakan akan ada lebih banyak dukungan fiskal AS dan berupaya memiliki posisi yang mudah dalam volume perdagangan pada akhir tahun ini.

Investor dunia memperkirakan prospek ekonomi akan membaik ketika vaksin Covid-19 diluncurkan. Selain itu, stimulus fiskal dan moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya akan meningkatkan pertumbuhan global dan harga aset pada 2021.

Namun, diperkirakan pertumbuhan ekonomi AS akan tertinggal di belakang rekan-rekannya akibat defisit fiskal dan peningkatan transaksi ketika pemerintah menambah pengeluaran untuk mengatasi penutupan bisnis terkait virus Corona.

Dilansir Pikiran-Rakyat.com dari Antara, data pada Rabu, 30 Desember 2020 menunjukkan bahwa defisit perdagangan barang-barang naik ke rekor 84,3 miliar dolar AS atau setara Rp1.175 kuadriliun pada Oktober.

“Dimulainya kampanye imunisasi Covid-19 di beberapa negara serta tambahan dukungan fiskal AS telah mengurangi risiko penurunan ekonomi global dan menjadi pertanda baik bagi sentimen pasar keuangan secara umum. Ini tetap menjadi hambatan bagi dolar,” kata Elias Haddad, ahli strategi mata uang senior di Commonwealth Bank of Australia.

Nilai mata uang dolar merosot 0,39 persen terhadap beberapa mata uang utama lainnya menjadi 89,65 setelah sebelumnya turun ke 89,56. Nilai tersebut merupakan penurunan nilai terendah sejak April 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *